Senin, 04 Agustus 2014

Pendukung ISIS terancam hukuman

Pendukung ISIS terancam hukuman thumbnail


01/08/2014
Ansyaad Mbai (Foto: Kompas)

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai mengatakan, warga negara Indonesia yang memberikan dukungan terhadap kelompok bersenjata yang tergabung dalam Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) atau Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) terancam hukuman.
“Di antaranya Pasal 23 huruf (f) Undang-Undang No 12 Tahun 2006tentang Kewarganegaraan RI. Dalam pasal itu disebutkan, WNI akan kehilangan kewarganegaraannya jika secara sukarela mengangkat sumpah atau menyatakan janji setia kepada negara asing atau bagian dari negara asing tersebut. Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS), kan, bagian dari negara asing,” ujar Ansyaad, Kamis (31/7/2014) di Jakarta.
Ansyaad menambahkan, selain UU Kewarganegaraan RI, juga Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). “Namun, kami masih mempelajari,” katanya.

Jumat, 14 Maret 2014

Melihat satu tahun kepemimpinan Paus Fransiskus


Melihat satu tahun kepemimpinan Paus Fransiskus thumbnail


12/03/2014 Pada tanggal 13 Maret ini kita merayakan ulang tahun pertama terpilihnya Jorge Mario Bergoglio sebagai Paus Fransiskus. Dan bulan depannya lagi kita akan menyaksikan acara yang akan mengungkapkan lebih banyak lagi tentang dia dan apa yang kita harapkan selama masa kepausannya.
Bulan April, Paus Fransiskus akan menguduskan Paus Yohanes Paulus II dan Paus Yohanes XXIII secara bersamaan. Kedua paus ini masing-masing menerapkan gaya kepemimpinan yang berbeda sebagai Uskup Roma. Paus Yohanes XXIII mencanangkan Konsili Vatikan II dan membuka pintu Gereja selebar-lebarnya. Sedangkan Yohanes Paulus II menegakkan dan meluruskan Gereja ketika orang berpikir sudah tidak bisa dikendalikan lagi.

Satu tahun Paus Fransiskus ditandai dengan peluncuran buku online gratis



Satu tahun Paus Fransiskus ditandai dengan peluncuran buku online gratis thumbnail13/03/2014


















Untuk menghormati peringatan satu tahun Paus Fransiskus, website Vatikan telah menerbitkan sebuah buku online khusus, yang berisikan homili dan pidatonya selama setahun.
Berjudul “Do we want to be holy? Yes or no?”, buku online itu dapat ditemukan di situs web resmi Vatikan dengan hanya mengklik sebuah bahasa pilihan, setelah itu sebuah jendela pop-up muncul dengan sampul buku dan judul.
Dimulai dengan sapaan Paus Fransiskus kepada umat Katolik, “saudara-saudari terkasih, jangan sedih” karena “orang Kristen tidak boleh sedih,” memoar maya itu menawarkan kutipan singkat dari kata-kata Paus Fransiskus, yang diambil dari homili, pidato dan ceramahnya selama setahun.
Di bawah setiap kutipan tersebut terdapat sebuah link ke teks, dan setiap frase disertai dengan fotonya, yang dimuat di halaman milik harian Vatikan, L’Osservatore Romano.

Minggu, 24 November 2013

Paus angkat Pastor Paskalis OFM sebagai Uskup Bogor

22/11/2013
Paus angkat Pastor Paskalis OFM sebagai Uskup Bogor thumbnail
Pastor Paskalis Bruno Syukur OFM

Pada Kamis (21/11), Paus Fransiskus mengangkat Pastor Paskalis Bruno Syukur OFM sebagai Uskup Bogor yang baru.
Sebagaimana dilansir Agenzia Fides, penunjukkan ini dilakukan setelah Bapa Suci menerima permohonan pengunduran diri Mgr Mikael Cosmas Angkur OFM yang menjadi Uskup Bogor sejak 1994 dan kini menginjak usia 76 tahun.
Pastor Paskalis yang lahir di Ranggu, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur pada 17 Mei 1962 selama ini bertugas sebagai Definitor General OFM di Roma, jabatan di bawah pemimpin umum OFM. Dari 9 anggota Definitor General, ia membawahi sejumlah provinsi OFM di Asia dan Oceania, seperti India, Pakistan, Jepang, Australia-Selandia Baru, termasuk Indonesia.

Dalam rangka tugasnya sebagai Definitor General, ia terakhir kali mengunjungi Indonesia pada awal Oktober lalu, saat menghadiri Sidang OFM Provinsi Indonesia di Pacet, Sindanglaya, Jawa Barat.
Dalam perpisahannya dengan pimpinan OFM di Roma, setelah mendapat berita pengangkatannya, Pastor Paskalis mengatakan, ini merupakan tugas baru yang tampaknya sulit. “Tapi saya mohon doa saudara-saudara sekalian”, tegasnya dalam video yang di-posting di situs www.ofm.org.
Pastor Paskalis masuk Ordo Fransiskan, setelah menyelesaikan pendidikan SMP-SMA di Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur. Studi filsafat dilewatinya di Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara, Jakarta (1983-1987) dan kemudian melanjutkan studi teologi di Fakultas Teologi Wedhabkti, Kentungan, Yogyakarta.

Kamis, 31 Oktober 2013

AIR MATA KEBERPIHAKKAN

(Telaah puisi kontemporer dari sudut sosiologi Sastra)
Oleh: Valery Kopong*
Sutardji Calzoum Bachri dikenal sebagai penyair kontemporer yang menggagas sekaligus mengedepankan pola penulisan baru pada puisi. Ketika membaca puisi-puisinya,ciri khas terasa kental. Dia lebih banyak mempermainkan kata yang baginya merupakan sebuah kekuatan, dan menjadi daya dobrak bagi seluruh bangunan puisinya. Bangunan puisi-puisi lama yang terkesan kaku, baik dari tata aturan maupun jumlah barisnya, kehadiran Sutardji membawa angin perubahan bagi mereka yang berani “merobek” pola-pola yang dogmatis-puitis. Perjuangan dan upaya seorang Bachri mendobrak kata, menerobos jenis kata, menerobos bentuk kata dan tata bahasa dipandang sebagai percobaan melakukan dekonstruksi bahasa Indonesia dan sekaligus menawarkan konstruksi-konstruksi baru yang lebih otentik melalui puisi. Terhadap perjuangan yang penuh dengan daya dobrak ini, memunculkan pertanyaan untuk direnungkan bersama. Apakah Sutardji sebagai pahlawan puisi kontemporer dan nabi bagi mereka yang mengenyam kebebasan dalam mengekspresikan diri melalui puisi?  
           Dalam puisi yang berjudul “Tanah Air Mata” menunjukkan sebuah penyelaman secara mendalam akan penderitaan yang dihadapi bangsa. Melalui puisi, ia hadir dan memberikan peristiwa derita ini menjadi pengalaman bernyawa serta sanggup menggugah kesadaran untuk memahami urat nadi kehidupan. Puisi Tanah Air Mata seakan menjadi “keranjang sampah, tempat segala derita dititipkan. Tanah air mata tanah tumpah dukaku// Mata air air mata kami//Air mata tanah air kami. Di sinilah kami berdiri//Menyanyikan air mata kami.Di balik gembur subur tanahmu//Kami simpan perih kami//Dibalik etalase megah gedung-gedungmu//Kami coba sembunyikan derita kami.
            Penggalan puisinya di atas lebih menunjukkan sebuah keberpihakan yang mendalam melalui sorot mata air mata. Air mata menjadi simbol kekuatan bagi mereka yang ingin menemukan sebuah kebebasan. Air mata memiliki daya dobrak terutama ketika berhadapan dengan kemelut batin. Air mata menjadi saluran terakhir ketika segala daya upaya meloloskan diri dari permasalahan dan menemukan jalan buntu. Air mata menjadi “rahim khatulistiwa” yang sanggup menyelimuti segala persoalan yang tengah di hadapi anak bangsa. Tetapi mengapa mereka sanggup meneteskan air mata? Apakah mereka yang menangis, berhasil mengeluarkan air matanya sendiri ataukah meminjam air mata orang lain?  Air mata yang diteteskan adalah air mata penuh sinis. Mereka (anak bangsa) sinis terhadap tindakan yang eksploitatif dan koruptif dari bangsa Indonesia ini. 
           

Sabtu, 26 Oktober 2013

PEMILU DAN HARAPAN MESIANIK



Oleh: Valery Kopong*

PEMILU sebagai sebuah “mesin demokrasi” yang mengelola dan menghitung suara, sesungguhnya menjadi pesta perhelatan bagi bangsa yang tengah mencari figur untuk memimpin negara. Ketika negara sedang dalam keadaan “kehilangan harapan” dan tidak memiliki lagi animo untuk memilih, maka jalan pintas yang ditempuh adalah tidak memilih alias golput. Kondisi seperti ini tidak bisa dipungkiri pada setiap kali menyelenggarakan pemilu. Apakah memilih untuk tidak memilih (golput) merupakan jalan terbaik dalam kehidupan berdemokrasi? Ataukah masyarakat harus memilih namun pada akhirnya kondisi bangsa tetap morat-marit seperti sebelumnya?
           

Rabu, 23 Oktober 2013

Bisakah Paus Fransiskus angkat kardinal perempuan?

                                                                                                    22/10/2013
Bisakah Paus Fransiskus angkat kardinal perempuan? thumbnail

Paus Fransiskus mengatakan berulang kali bahwa ia ingin melihat peran yang lebih besar bagi kaum perempuan dalam Gereja Katolik, dan beberapa orang berpendapat bahwa ia bisa mengambil langkah besar dengan mengangkat perempuan menjadi kardinal.
Ide ini terus dibicarakan, yang dipicu oleh sebuah artikel bulan lalu di sebuah surat kabar Spanyol dimana Juan Arias, seorang mantan imam menulis dari Brasil, bahwa “ide itu bukan sebuah lelucon. Ini adalah sesuatu yang dipikirkan oleh Paus Fransiskus sebelumnya: pengangkatan kardinal wanita”.
Arias mengutip seorang imam Yesuit yang tidak menyebut namanya -  mengatakan: “Paus ini tidak akan ragu mengangkat seorang kardinal wanita.  Dan dia bisa menjadi Paus pertama yang memungkinkan perempuan untuk berpartisipasi dalam pemilihan Paus baru.”

Kamis, 17 Oktober 2013

MENCARI KASIH SAYANG YANG HILANG



                Ketika mengunjungi  Yayasan Sayap Ibu, sebuah yayasan yang menaungi panti sosial ini, terlihat ada yang  menyedihkan. Dari guratan wajah anak-anak yang dibuang orang tuanya, sepertinya mereka memendam sebuah pertanyaan sederhana, “mengapa kami dilahirkan?” Pertanyaan ini sepertinya menggugat dan menggugah kesadaran setiap orang yang mengunjungi  panti sosial ini. Kawasan yang dijadikan sebagai panti sosial ini agak sepi, jauh dari keramaian. Letaknya di Graha Bintaro-Tangerang Selatan, di hamparan tanah yang cukup luas. Di area inilah anak-anak mengalami keterasingan diri namun tidak bisa memberontak karena cacat yang dideritanya.
                Ada berbagai macam penyakit yang diderita anak-anak bahkan membuat mereka cacat. Atas dasar kecacatan inilah yang mendorong orang tua mereka untuk membuang mereka  dari keluarga. Barangkali sakit yang diderita itu membawa beban bagi orang tua dan karenanya mereka disingkirkan secara tragis dari keluarga.  Kebanyakan mereka menderita  bisu, tuli dan cacat yang lain, yang sulit berkomunikasi dengan para pengunjung. Namun dari sorot mata mereka, dapat dibaca bahwa mereka butuh untuk didampingi, butuh kasih sayang terutama dari orang tua.
               

MENJADI PEJUANG, BERANI MENANGGALKAN SIKAP PRIMORDIAL




Setiap tahun, tepatnya  tanggal 17 Agustus,  bangsa Indonesia merayakan hari  kemerdekaan. Tahun ini  bangsa Indonesia merayakan usia kemerdekaan yang ke 68, sebuah usia,  yang kalau disejajarkan dengan seorang manusia, termasuk usia sepuh.  Di setiap lingkungan pendidikan, instansi pemerintah dan masyarakat  secara keseluruhan, berusaha untuk menghidupkan pesta kemerdekaan ini dengan acara-acara yang gemilang. Tetapi apakah, acara yang dilakukan ini merupakan sebuah seremoni tanpa makna? Apa arti kemerdekaan bagi generasi kita yang tidak mengalami secara langsung bentuk penjajahan yang dilakukan oleh para penjajah? Apa sumbangan yang diberikan oleh orang-orang Katolik, baik pada zaman perjuangan dalam memperoleh kemerdekaan maupun pada saat sekarang, ketika kita bebas dari penjajah? Apa yang kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu?
           

“RUANG KERJA SEORANG PENYULUH AGAMA KATOLIK ADA DI RUANG TERBUKA”



Para Penyuluh  Agama  Katolik yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil  (PNS) di bawah Bimas Katolik,  Kementerian Agama RI, memegang peranan penting karena setiap hari selalu berhadapan dengan kelompok masyarakat  yang didampinginya. Sebagai  ‘ujung  tombak’  Bimas Katolik, para penyuluh perlu terus belajar untuk membekali diri dengan pengetahuan dan perkembangan zaman yang selalu mengalami perubahan. Menyadari akan pentingnya pembekalan dan persiapan diri  yang matang maka Bimas Katolik RI menyelenggarakan kegiatan penyusunan materi penyuluhan sebagai pegangan oleh para Penyuluh  Agama  Katolik dalam melakukan kegiatan pembinaan. Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 25-28 Agustus di Hotel Papyrus,  Bogor-Jawa Barat, mengusung tema: “Dengan Materi Penyuluhan yang Berkualitas Kita Wujudkan Masyarakat yang Beriman dan Rukun.”
               

Selasa, 15 Oktober 2013

DOA ORANG YANG TERLUKA

Judul Buku    : Doa Yang Menyembuhkan
Penulis            : Jean Maalouf
Penerjemah    : Wilhelmus David
Penerbit          : Orbit Media, Tangerang, 2013
ISBN               : 978-602-17548-8-7
Doa memainkan peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Doa bekerja untuk menyembuhkan,  mengubah dan membuat mungkin untuk setiap hal yang dianggap mustahil. Allah menyembuhkan orang yang butuh disembuhkan. “Doa tidak mengubah Allah tetapi mengubah orang yang berdoa, “ kata Soren Kiekegaard. Karenanya, untuk mencapai titik puncak pengubahan diri maka dalam doa perlu dicarikan jalan yang tepat untuk bagaimana membangun relasi intim dengan Allah. Dalam doa, sepertinya pendoa sedang berada di beranda Allah, membiarkan dirinya untuk hanyut dan larut dalam ribaan Allah.
            Dalam doa-doa Katolik, begitu banyak mistikus merintis jalan panjang untuk mencari jati diri Allah melalui cara-cara baru dalam berdoa. Model doa seperti apakah yang kita perlihatkan di hadapan Allah sebagai cara dalam meraih kekhusyukan dan mengalami kehadiran-Nya? Apakah doa yang tenang penuh meditatif yang kita gandrungi? Doa Benediktin, yang pertama kali diperkenalkan oleh Santo Benediktus, menyentuh kesadaran manusia.   Tipe doa ini menyentuh semua tipe kepribadian: lectio menyentuh pikiran kita, meditatio menyentuh akal kita, oratio menyentuh perasaan kita dan contemplatio menyentuh naluri kita.     
Selain doa Benediktin, dikenal juga doa Agustinus yang lebih  menggunakan kekuatan Sabda Allah sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari dan mengajarkan kepada para murid agar menggunakan cara doa ini untuk mengenal kehendak Allah bagi mereka. Sementara itu, doa Fransiskan mengarahkan semua orang untuk percaya penuh kepada Allah, terbuka kepada bimbingan Roh Kudus dan memuliakan Allah dalam keindahan-keindahan alam.

TERSENYUM DALAM LUKA YANG MENGESANKAN

Judul               : Pengampunan Yang Menyembuhkan
Penulis             : Jean Maalouf  
Penerjemah      : Wilhelmus David  
Penerbit           : Orbit Media
Tebal               : 122 halaman
ISBN               : 978-602-17548-9-4
Ketika Paus Yohanes Paulus II ditembak, sepertinya tidak ada dendam yang tumbuh dalam dirinya. Setelah sembuh, beliau malah mengunjungi si penembak. Dunia menjadi heran penuh tanya, mengapa ia yang terluka harus memulai menumbuhkan rasa maaf kepada orang yang menembaknya? Tindakan mendiang ini tidak merupakan tindakan simbolik tetapi mewujudnyatakan tindakan  kasih yang pernah diperlihatkan oleh Sang Guru, Yesus Kristus. Yesus tidak menaruh dendam terhadap mereka yang menganiaya, bahkan Yudas Iskariot  yang datang membawa para algoju hendak menangkapnya, Yesus masih menyapanya sebagai sahabat. “Sahabat, untuk maksud itukah engkau datang?”
Pengampunan dalam lingkup pemikiran orang-orang Kristiani merupakan landasan utama dalam menghidupi kehidupan ini. Yesus yang telah membawa hukum kasih, menjadikan setiap pengikut-Nya meneladani apa yang telah dilakukan. Apakah orang-orang Katolik dan orang-orang Kristiani secara umum sudah mewujudkan kasih dan memberi pengampunan kepada orang lain ketika orang lain melakukan kesalahan terhadapnya? Mengampuni orang lain, seperti yang dianjurkan oleh Yesus terkesan gampang tetapi ini menjadi tantangan berat bagi orang-orang Katolik karena tidak mudah mengampuni orang-orang yang telah melukai hati kita.

Senin, 14 Oktober 2013

SALAM




                Salam disampaikan imam sambil membuka tangan kepada umat beriman, sesudah membuat tanda salib; dengan rumusan: “Tuhan bersamamu” dan umat beriman berjawab: “Dan bersama rohmu.” Makna pokok salam tersebut ialah untuk menyatakan bahwa Tuhan hadir di tengah-tengah mereka dan juga mengungkapkan misteri Gereja yang sedang berkumpul (PUMR 50) maksudnya pada saat melaksanakan dialog salam imam dan jawaban dari pihak umat ini, imam dan umat sedang menyadari bahwa Tuhan benar-benar hadir di tengah kita dan jawaban dari pihak umat memperlihatkan misteri Gereja yang sedang berkumpul.
                Cara pemimpin memberikan salam dan cara umat menanggapi salam ini sangat penting. Salam pada hakikatnya harus komunikatif: harus benar-benar ada komunikasi antara pemberi salam (imam) dan penerima salam (umat). Dari pihak imam, komunikasi diungkapkan lewat: pandangan mata, mimic, tata gerak tangan. Semua ini harus benar-benar menopang kata-kata salam.
               

TANDA SALIB




                Tanda salib adalah tata gerak khas katolik setiap kali mengawali doa atau ibadat; juga ketika jemaat katolik mengawali Perayaan Ekaristi. Sambil berdiri, imam bersama seluruh umat yang hadir memulai perayaan Ekaristi dengan membuat tanda salib dengan bersuara lantang: “Dalam/Demi nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.” Umat juga membuat tanda salib dan menjawab: “Amin.” Baik dilafalkan maupun dilagukan, jawaban ‘Amin’ ini harus mantap.
                Jadi, pada dasarnya tanda salib dalam perayaan Ekaristi bersifat dialogal. Pemimpin tidak boleh memborong sampai dengan “Amin.” Karena kalau demikian, ia menggusur hak umat untuk mengamini dan dapat ditafsirkan bahwa ia tidak menghendaki peranserta umat untuk ikut berpartisipasi.
               

PENGHORMATAN ALTAR DAN PENDUPAAN



                Penghormatan Altar dilakukan oleh semua petugas liturgi dengan membungkuk khidmat (PUMR 49). Akan tetapi, apabila di belakang altar terdapat Sakramen Mahakudus di dalam tabarnakel, semua petugas liturgi berlutut (PUMR 274). Altar dihormati karena altar melambangkan Tuhan Yesus Kristus sendiri. Tuhan yang telah wafat dan bangkit akan hadir di atas altar dan dari meja ini Dia akan memberikan diri-Nya kepada umat beriman dalam rupa makanan dan minuman ekaristis.
                Secara khusus imam menghormati altar dengan mencium altar. Mencium altar ini menjadi lambang untuk memberi salam dan penghormatan kepada Kristus Sang Imam Agung dan Sang Tuan Rumah Perayaan Ekaristi. Penghormatan altar dengan mencium altar sudah dipraktekan Gereja sejak abad IV. Tindakan imam yang mencium altar itu bukan hanya bersifat pribadi melainkan bersifat mewakili seluruh jemaat yang hadir. Maka, umat hendaknya menggabungkan diri dalam penghormatan kepada Kristus itu secara batin (dalam hati).
               

PERARAKAN MASUK DAN NYANYIAN PEMBUKA



Perarakan masuk para pelayan dan petugas sebagai tanda diawalinya perayaan Ekaristi ini disambut oleh umat beriman dengan berdiri sambil diiringi dengan nyanyian pembuka.
                Pada hari Minggu dan hari raya, perarakan masuk ini diiringi dengan nyanyian pembuka, yang memiliki beberapa fungsi:
  1. Mengiringi perarakan para petugas liturgy (imam dan para pelayan lain) memasuki ruang ibadat; maka nyanyian pembuka harus dilagukan selama perarakan berlangsung.
  2. Membina persekutuan umat; maka seluruh jemaat harus berpartisipasi dalam nyanyian pembuka: bernyanyi dengan segenap hati, dengan suara lantang; oleh karena itu baik dipilih nyanyian yang mampu mempersatukan umat.
  3. Mengantar umat memasuki misteri yang dirayakan; maka tema nyanyian pembuka harus cocok dengan perayaan Ekaristi hari yang bersangkutan.
Berkaitan dengan fungsi kedua: membina persekutuan umat, maka perlu diperhatikan hal-hal yang menunjang terciptanya persekutuan jemaat, a.l.:
1.       Tata gerak: selama melagukan nyanyian pembuka kita semua berdiri tegap, tidak loyo, tidak ada yang duduk; kesamaan sikap ini menunjukkan kekompakan, persekutuan. “Sikap tubuh yang seragam menandakan kesatuan seluruh jemaat yang berhimpun untuk merayakan liturgi kudus. Sebab sikap tubuh yang sama mencerminkan dna membangun sikap batin yang sama pula.”
2.       Terlibat: seluruh umat menyanyikan nyanyian pembuka, entah silih berganti dengan koor, entah bersama-sama dengan para anggota koor.
3.       Berbagi buku: kalau teman di sebelah kita tidak membawa buku, kita ajak ia menyanyi dengan buku kita; dengan menawarkan buku untuk dipakai bersama, kita membangun persekutuan.

Persiapan Menjelang Ekaristi



Persiapan menjelang perayaan Ekaristi  sebaiknya dengan sengaja diciptakan. Tata Perayaan Ekaristi (TPE) 2005 juga menyarankan adanya persiapan sebelum perayaan Ekaristi dimulai. Dikatakan: “Menjelang Perayaan Ekaristi, seyogyanya diadakan persiapan dengan menciptakan suasana ibadat yang sesuai, baik di ruang ibadat (oleh umat) maupun (oleh imam, diakon dan para petugas: asisten imam, lektor, pemazmur dan putra altar).”
                Bentuk persiapan itu bisa ditafsirkan beragam, misalnya secara fisik: busana liturgy dan perlengkapan liturgy yang berkaitan. Maksudnya tugas yang berbeda-beda dalam perayaan Ekaristi ditunjukkan dengan busana liturgi  yang berbeda-beda pula. Bentuk dan model serta kelengkapan busana liturgi tidak dibuat sesuai selera masing-masing, melainkan ada aturan baku dalam Gereja, karena busana liturgi bukan sekedar mode melainkan mengandung  arti simbolis yang sangat dalam. Demikian pula dengan warna busana liturgi disesuaikan dengan karakter perayaan yang dirayakan.
                Namun yang  utama dari berbagai persiapan menjelang perayaan Ekaristi adalah menciptakan suasana hening secara batin “agar seluruh umat dapat menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadat dengan cara yang khidmat dan tepat.” (Pedoman Umum Misale Romawi-PUMR 45).

Minggu, 13 Oktober 2013

Romo Magnis: Toleransi harus mulai diajarkan


Romo Magnis: Toleransi harus mulai diajarkan thumbnail


09/10/2013
Romo Franz Magnis Suseno SJ

Ditemukannya sejumlah laporan dimana intoleransi dan fanatisme terhadap agama diajarkan di sekolah, dinilai guru besar filsafat dari Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Romo Franz Magnis-Suseno SJ sebagai kondisi dimana pemerintah wajib memulai pendidikan dengan keutamaan ke arah toleransi.
Menurut Rohaniawan Katolik ini, hal itu perlu dimulai agar fenomena yang membahayakan ini tidak menyebar yang dapat menyebabkan generasi muda kehilangan pandangan mengenai indahnya kebersamaan dalam keberagaman.
Menurut Romo Magnis, mengajarkan nilai toleransi harus dianggap sebagai sebuah keharusan.
“Di situ ada dua poin yang penting. Yang pertama bahwa toleransi bukan berarti mengatakan semua keyakinan sama dan sebagainya. Dan yang kedua, belajar menerima bahwa orang dengan keyakinan yang berbeda. Nah yang dua hal itu yang harus diajarkan pada anak (sejak) kecil,” ujar Romo Magnis seperti dilansir jawaban.com.
Menanamkan nilai menghargai setiap orang dengan keberagaman dan perbedaaan sejak dini kepada anak akan membuat mereka tidak terpengaruh terhadap hasutan-hasutan menyesatkan yang cenderung fanatik. Untuk itu pemerintah pun wajib membuat program dimana nilai toleransi diutamakan diajarkan di setiap sekolah.

Keuskupan Tanjungkarang resmi memiliki uskup baru


Keuskupan Tanjungkarang resmi memiliki uskup baru thumbnail


10/10/2013
Mgr Yohanes Harun Yuwono

Gereja Katolik Keuskupan Tanjungkarang, Lampung, hari ini (10/10) secara resmi dipimpin uskup baru dengan ditahbiskannya Pastor Yohanes Harun Yuwono.
Setelah lebih dari  setahun keuskupan itu mengalami kekosongan,  pasca  pensiunnya Mgr Andreas Henrisusanto SCJ pada 6 Juli 2012.
Pada 19 Juli 2013, Paus Fransiskus mengangkat Pastor  Yuwono sebagai Uskup Tanjungkarang, yang terletak di ujung selatan Pulau Sumatra ini.
Acara penahbisan uskup akan diadakan di Wisma Albertus, Pahoman, oleh Mgr Aloysius Sudarso SCJ,  uskup agung Palembang, yang juga akan dihadiri para uskup dari seluruh tanah air.
Uskup Yuwono  lahir di Pringsewu, Lampung, pada 4 Juli 1964 dan ditahbiskan menjadi imam pada 8 Desember 1992 untuk keuskupan Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Saat diangkat menjadi uskup, ia menjadi Rektor Seminari Tinggi St. Petrus Pematangsiantar dan menjadi dosen di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (STFT) St. Yohanes Pematangsiantar, Sumatra Utara.
Ia pernah berkarya sebagai pastor paroki di Paroki St. Perawan Maria Pengantara Segala Rahmat Sungailiat, Bangka, Keuskupan Pangkalpinang.
Populasi di keuskupan itu lebih dari 70 persen adalah para migran dari Jawa, Madura, dan Bali, sedangkan sisanya adalah warga asli Lampung, dan migran dari Sumatra Utara dan Sulawesi Selatan.
Kehadiran Gereja Katolik di Lampung ditandai dengan kedatangan misionaris Belanda Pastor H.J.D. van Oort SCJ pada 16 Desember 1927. Sebelumnya umat Katolik dilayani oleh Vikariat Apostolik Palembang.
Tahun 1961 Lampung menjadi sebuah keuskupan, dan Mgr Albertus Hemelink Gentiaras menjadi uskup pertama. Keuskupan itu kini memiliki 20 paroki, dengan jumlah umat Katolik sekitar 80.000 jiwa.

Kamis, 03 Oktober 2013

Paus Fransiskus bertemu dewan kardinal untuk reformasi Gereja


Paus Fransiskus bertemu dewan kardinal untuk reformasi Gereja thumbnail


03/10/2013












Delapan kardinal yang dipilih oleh Paus Fransiskus untuk menasehatinya tentang reformasi Kuria Romawi dan pemerintahan Gereja Katolik bertemu Paus untuk pertama kalinya.
Pertemuan itu merupakan sebuah langkah yang sudah dinantikan selama enam bulan kepausannya.  Para kardinal  itu terbang ke Roma dari seluruh penjuru dunia untuk memberikan Paus itu dengan ide-ide bagaimana mereformasi Vatikan dan Gereja di seluruh dunia.
Kelompok itu secara resmi dinamakan Dewan Kardinal atau disebut “G8 kepausan” – sebagai langkah “revolusioner” ketika dibentuk pada April menyusul pemilihannya.
Seorang pengamat mengatakan bahwa  gaya kepemimpinnannya ini tampak jelas lebih bersifat kolegal. Ini adalah “langkah paling penting dalam sejarah Gereja selama 10 abad terakhir”.
Namun, juru bicara Vatikan, Pastor Federico Lombardi SJ, pada Senin menegaskan  meskipun para kardinal dipanggil untuk menasehati Paus, tidak ada pertanyaan tentang siapa yang akan memutuskan.
“Dewan menyarankan, dan yang memutuskan adalah Bapa Suci,” katanya.
Delapan kardinal itu berasal dari seluruh dunia, seperti Amerika Serikat, Jerman, Australia, India dan Republik Demokratik Kongo. Semua mereka, kata Pastor Lombardi, memiliki “pengalaman yang luas terkait masalah Gereja”.
Sebuah keputusan pribadi yang dikenal sebagai “chirografo” yang diterbitkan oleh Paus Fransiskus mengatakan tugas resmi mereka adalah untuk menasehatinya tentang “pemerintahan Gereja universal” dan membantunya merevisi Pastor Bonus, konstitusi apostolik tentang Kuria Romawi yang disusun oleh Paus Yohanes Paulus II tahun 1988.
Pastor Lombardi mengatakan “tidak ada keputusan mengejutkan” yang diharapkan dari pertemuan pertama ini, yang akan berlangsung hingga Kamis sore.
Dalam wawancara baru-baru ini dengan Jurnal Yesuit Italia La Civilta Cattolica, Paus Fransiskus mengatakan reformasi akan membutuhkan waktu yang lama.
Selama pertemuan tiga hari itu, para kardinal akan bertemu dengan Paus dan sekretarisnya di perpustakaan pribadi di istana apostolik. Peran Paus terutama mendengarkan apa yang para kardinal itu sampaikan, kata Pastor Lombardi.
Semua anggota dewan itu tinggal bersama Paus Fransiskus di Domus Sanctae Marthae Vatikan.
Selain Kardinal Maradiaga, para kardinal itu: George Kardinal Pell, Uskup Agung Sydney, Sean Kardinal O’Malley, Uskup Agung Boston, Laurent Kardinal Monsengwo Pasinya, Uskup Agung Kinshasa, Kongo, Giuseppe Kardinal Bertollo, gubernur negara Kota Vatikan, Francisco Javier Kardinal Errazuriz Ossa, Uskup Agung Emeritus Santiago, Oswald Kardinal Gracias, Uskup Agung Mumbai, dan Reinhard Kardinal Marx, Uskup Agung Munich dan Freising.
Sumber: Pope Francis to meet cardinals for historic talks on church reforms