Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Oktober 2013

AIR MATA KEBERPIHAKKAN

(Telaah puisi kontemporer dari sudut sosiologi Sastra)
Oleh: Valery Kopong*
Sutardji Calzoum Bachri dikenal sebagai penyair kontemporer yang menggagas sekaligus mengedepankan pola penulisan baru pada puisi. Ketika membaca puisi-puisinya,ciri khas terasa kental. Dia lebih banyak mempermainkan kata yang baginya merupakan sebuah kekuatan, dan menjadi daya dobrak bagi seluruh bangunan puisinya. Bangunan puisi-puisi lama yang terkesan kaku, baik dari tata aturan maupun jumlah barisnya, kehadiran Sutardji membawa angin perubahan bagi mereka yang berani “merobek” pola-pola yang dogmatis-puitis. Perjuangan dan upaya seorang Bachri mendobrak kata, menerobos jenis kata, menerobos bentuk kata dan tata bahasa dipandang sebagai percobaan melakukan dekonstruksi bahasa Indonesia dan sekaligus menawarkan konstruksi-konstruksi baru yang lebih otentik melalui puisi. Terhadap perjuangan yang penuh dengan daya dobrak ini, memunculkan pertanyaan untuk direnungkan bersama. Apakah Sutardji sebagai pahlawan puisi kontemporer dan nabi bagi mereka yang mengenyam kebebasan dalam mengekspresikan diri melalui puisi?  
           Dalam puisi yang berjudul “Tanah Air Mata” menunjukkan sebuah penyelaman secara mendalam akan penderitaan yang dihadapi bangsa. Melalui puisi, ia hadir dan memberikan peristiwa derita ini menjadi pengalaman bernyawa serta sanggup menggugah kesadaran untuk memahami urat nadi kehidupan. Puisi Tanah Air Mata seakan menjadi “keranjang sampah, tempat segala derita dititipkan. Tanah air mata tanah tumpah dukaku// Mata air air mata kami//Air mata tanah air kami. Di sinilah kami berdiri//Menyanyikan air mata kami.Di balik gembur subur tanahmu//Kami simpan perih kami//Dibalik etalase megah gedung-gedungmu//Kami coba sembunyikan derita kami.
            Penggalan puisinya di atas lebih menunjukkan sebuah keberpihakan yang mendalam melalui sorot mata air mata. Air mata menjadi simbol kekuatan bagi mereka yang ingin menemukan sebuah kebebasan. Air mata memiliki daya dobrak terutama ketika berhadapan dengan kemelut batin. Air mata menjadi saluran terakhir ketika segala daya upaya meloloskan diri dari permasalahan dan menemukan jalan buntu. Air mata menjadi “rahim khatulistiwa” yang sanggup menyelimuti segala persoalan yang tengah di hadapi anak bangsa. Tetapi mengapa mereka sanggup meneteskan air mata? Apakah mereka yang menangis, berhasil mengeluarkan air matanya sendiri ataukah meminjam air mata orang lain?  Air mata yang diteteskan adalah air mata penuh sinis. Mereka (anak bangsa) sinis terhadap tindakan yang eksploitatif dan koruptif dari bangsa Indonesia ini. 
           

Sabtu, 26 Oktober 2013

PEMILU DAN HARAPAN MESIANIK



Oleh: Valery Kopong*

PEMILU sebagai sebuah “mesin demokrasi” yang mengelola dan menghitung suara, sesungguhnya menjadi pesta perhelatan bagi bangsa yang tengah mencari figur untuk memimpin negara. Ketika negara sedang dalam keadaan “kehilangan harapan” dan tidak memiliki lagi animo untuk memilih, maka jalan pintas yang ditempuh adalah tidak memilih alias golput. Kondisi seperti ini tidak bisa dipungkiri pada setiap kali menyelenggarakan pemilu. Apakah memilih untuk tidak memilih (golput) merupakan jalan terbaik dalam kehidupan berdemokrasi? Ataukah masyarakat harus memilih namun pada akhirnya kondisi bangsa tetap morat-marit seperti sebelumnya?
           

Kamis, 17 Oktober 2013

MENCARI KASIH SAYANG YANG HILANG



                Ketika mengunjungi  Yayasan Sayap Ibu, sebuah yayasan yang menaungi panti sosial ini, terlihat ada yang  menyedihkan. Dari guratan wajah anak-anak yang dibuang orang tuanya, sepertinya mereka memendam sebuah pertanyaan sederhana, “mengapa kami dilahirkan?” Pertanyaan ini sepertinya menggugat dan menggugah kesadaran setiap orang yang mengunjungi  panti sosial ini. Kawasan yang dijadikan sebagai panti sosial ini agak sepi, jauh dari keramaian. Letaknya di Graha Bintaro-Tangerang Selatan, di hamparan tanah yang cukup luas. Di area inilah anak-anak mengalami keterasingan diri namun tidak bisa memberontak karena cacat yang dideritanya.
                Ada berbagai macam penyakit yang diderita anak-anak bahkan membuat mereka cacat. Atas dasar kecacatan inilah yang mendorong orang tua mereka untuk membuang mereka  dari keluarga. Barangkali sakit yang diderita itu membawa beban bagi orang tua dan karenanya mereka disingkirkan secara tragis dari keluarga.  Kebanyakan mereka menderita  bisu, tuli dan cacat yang lain, yang sulit berkomunikasi dengan para pengunjung. Namun dari sorot mata mereka, dapat dibaca bahwa mereka butuh untuk didampingi, butuh kasih sayang terutama dari orang tua.
               

MENJADI PEJUANG, BERANI MENANGGALKAN SIKAP PRIMORDIAL




Setiap tahun, tepatnya  tanggal 17 Agustus,  bangsa Indonesia merayakan hari  kemerdekaan. Tahun ini  bangsa Indonesia merayakan usia kemerdekaan yang ke 68, sebuah usia,  yang kalau disejajarkan dengan seorang manusia, termasuk usia sepuh.  Di setiap lingkungan pendidikan, instansi pemerintah dan masyarakat  secara keseluruhan, berusaha untuk menghidupkan pesta kemerdekaan ini dengan acara-acara yang gemilang. Tetapi apakah, acara yang dilakukan ini merupakan sebuah seremoni tanpa makna? Apa arti kemerdekaan bagi generasi kita yang tidak mengalami secara langsung bentuk penjajahan yang dilakukan oleh para penjajah? Apa sumbangan yang diberikan oleh orang-orang Katolik, baik pada zaman perjuangan dalam memperoleh kemerdekaan maupun pada saat sekarang, ketika kita bebas dari penjajah? Apa yang kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu?